Translate

Selasa, 03 Juli 2018

DEAR DIARY


Selasa, 03 Juli 2018



Dear, Diary ...

Bulan Juli 2018 sudah datang. Aku berharap semua akan baik-baik saja. Tak ada hal-hal tragis yang terjadi dalam kehidupan pribadi dan keluargaku.

Oh ya, setelah pulang dari rumah sakit kemarin, aku mulai menjalani gaya hidup sehat. Aku mulai memilah makananku. Menghindari gorengan, mengurangi yang manis-manis dan mengatur pola istirahatku.

Jam 10 malam, kupaksakan diri untuk tidur. Padahal biasanya jam 2 dini hari aku baru bisa melelapkan diri. Eh, aku bantu dengan minum herbal Xamthone yang kuminum rutin pada jam 9 malam.

Alhamdulillahnya, aku bisa tidur dengan nyenyak.

Sementara itu aku masih mencari  jenis olah raga apa yang sekiranya cocok  dengan usiaku. Nggak mungkin dong aku yang sudah renta ini berbaur dengan anak-anak muda itu.

Tahu diri, paaaakkk ...

*

Siang ini ada ‘kejadian’ yang mengejutkanku.

Tetangga sebelah yang biasanya cuek bebek, tak mau tahu dengan tetangga kog tiba-tiba saja datang ke rumah. Beliau, sebut saja Pak De, menanyakan kabarku.

Tentu saja ini sedikit aneh, lha wong waktu bapakku meninggal dunia saja, beliau beserta keluarga pamitan ke rumah sakit. Lha ... apa nggak bisa ditunda pak, kontrolnya? Kan ini tetangga sebelahmu sedang ada kesusahan!!!

Tapi aku sekeluarga tak pernah mempedulikan itu. Buat kami, yang mau berbuat baik pada kami ya monggo, kalau tidak ya sudahlah. Itu bukan urusan kami.

Hebatnya lagi, beliau  menyuruhku menganggap beliau sebagai ‘bapaknya’ sebagai pengganti bapakku yang telah meninggal dunia. *amazing banget*

Tapi apapun itu, kami menyikapinya dengan positif saja. Semua orang bisa saja berubah. Bisa saja Pak De mendapat hidayah agar berbuat baik pada tetangga sebelahnya.

Semoga Pak De istiqomah, bisa selalu bersikap baik pada tetangganya. Tidak saja pada keluargaku, tetapi baik pada semua tetangga yang ada di sini.

AMIN YA ROBUL ALAMIN.

SANJU : THE MOVIE



SELASA, 03 JULI 2018


Bagi pecinta film india lama, nggak mungkin kalau nggak kenal yang namanya Sunjay Dutt. Film-filmnya dulu selalu hits dan menjadi box office saat diputar di bioskop.

Namun namanya kemudian tenggelam seiring dengan berbagai kasus yang menimpanya, mulai dari narkoba, kepemilikan senjata api hingga keterlibatannya dalam jaringan teroris. 


Waduh!



Nah, itu yang membuat aku penasaran dengan kisah sebenarnya. Karena yang aku tahu hanya melalui majalah-majalah gossip india saja.  Bisa jadi dengan melihat filmnya ini, kita jadi tahu apa sebenarnya yang menimpanya.


Dibintangi Ranbir Kapoor sebagai Sunjay Dutt dan Paresh Rawal sebagai Sunil Dutt, film ini pantas mendapat dua jempol. Jalan cerita yang mengalir, gambar yang jerni dan akting para pemainnya yang natural membuat film ini pantas menjadi film terbaik tahun ini.


Kisah keluarga yang famous, persahabatan yang kental serta intrik-intrik politik yang terjadi dan melibatkan nasib keluarga Dutt disajikan secara mengalir hingga mudah dimengerti.


Akting Manisha Koirala sebagai Nargis, ibu Sunjay Dutt yang sedang sekarat karena penyakit kanker pankreas juga sangat alami. Apa karena beliau memang sedang kena kanker ya?


Peran Anushka Sharma sebagai penulis biografi Sanju cukup menarik perhatian.  Hanya sayang tampilan rambut blonde iklnya itu sungguh sangat mengganggu pemandangan mata.


Terlepas dari itu semua, akting Ranbir Kapoor benar-benar layak dipuji. Ekspresi sedih, bahagia, tertawa dan menangis dilakukannya dengan sepenuh jiwa. Tak lupa, hoby lipsing ngondeknya juga ditampilkan di salah satu lagu.



BRAVO, RANBIR.



#SANJUTHEMOVIE
#RANBIRKAPOOR   
#ANUSHKASHARMA
#PARESHRAWAL
#BOLLIWOOD
#BOLLIMOVIE


Sabtu, 30 Juni 2018

DIOPNAME


RABU, 27 JUNI 2018

Pagi ini aku berangkat ke rumah sakit ditemani Tata.  Rasa nyeri yang timbul di lengan kiriku terasa kian sakit. Tak ada berkurangnya sama sekali meski aku sudah meminum obat penghilang rasa nyeri.

Tiba di depan UGD langsung ditangani oleh perawat dan dilakukan observasi. Ada sedikit kebohongan yang kukatakan, bahwa  panas badanku sudah 7 hari, padahal baru 3 hari. Diarenya kubilang sudah 8 kali sehari padahal baru 5 kali.

Bukannya apa, aku sepertinya memang ingin lebih diperhatikan oleh rumah sakit.  Berdasarkan pengalaman beberapa waktu yang lalu, kalau panas masih 3 hari kita bakal disuruh pulang oleh rumah sakit, belum dianggap pasien yang parah.

Aku sendiri merasa aneh, kog aku jadi semangat untuk di opname ya!

Bisa jadi aku memang sengaja melakukan ini agar dua hari besok bisa gak masuk kantor dengan alasan sakit. Lho!  Ini sakit beneran, kog malah dijadikan alasan.

“Bapak harus ngamar ...” kata dokter yang menanganiku.
“Baik, dok,” kataku mengiyakan permintaan dokter.

Hahaha ... bener-bener pasien yang aneh.  Kalau pasien lain, pasti menolak-nolak kalau disuruh opname. Lha aku malah dengan pasrah bongkokan, mengiyakan saja permintaan dokter.

Diagnosa sementara, aku kena diare akut. Lha terus kram ditangan? Rasa kebasnya ini gimana? Kog nggak dibahas sama sekali? Ini gimana sih? Tapi aku manut saja. Bisa jadi nanti  rasa sakit di tangan akan diobservasi di lain waktu.

“Maaf, pak ... Sal Kelas 1 penuh. Kalau bapak bersedia, ada ruang VIP isi 2 dan 4 orang. Yang isi 2 orang harganya Rp 850k, yang isi 4 orang harganya Rp 500k”

BUSYET!!!!

Ini rumah sakit apa bisnis penginapan?  Mereka menawarkan harga dengan entengnya seperti kita ini pasien kara raya saja. Mungkin kalau pasien dari keluarga yang banyak uang, nggak ada masalah!  Awalnya aku mau memilih salah satu dari pilihan yang ditawarkan itu. Tapi sejurus kemudian, aku menolak tawaran itu.

“Saya di kelas 2 saja, pak”

Ada raut kecewa di wajah petugas. Haha!  Lo pikir gue nggak sayang apa ngeluarin duit buat sewa kamar  rumah sakit?  Sebagus dan semahal apapun, kamar rumah sakit ya tetep nggak nyaman untuk ditinggali.

Namanya juga RUMAH SAKIT, bukan RUMAH SEHAT!

Jumat, 29 Juni 2018

HATE & SICK COLLIDE



Selasa, 26 Juni 2018

Malam ini aku  merasa ada yang tidak beres di badanku. Lengan kiriku sakit sekali. Terasa cekot-cekot dari tungkai tangan kanan hingga ke leher. Ujung-ujung jariku juga terasa kebas.

Aku takut kalau ini adalah gejala stroke.

Beberapa artikel yang kubaca di internet memang menjelaskan demikian. Teman kerja yang pernah kena stroke juga pernah cerita bahwa gejala awal kena stroke seperti yang kurasakan saat ini.

WADUH!  Aku jadi ngeri.  Aku tak boleh mengabaikan ini. Aku segera  minum obat anti nyeri dan bertekad akan pergi ke rumah sakit esok pagi. Malam ini aku tak bisa tidur dengan tenang. Rasa sakit di tanganku tak juga kunjung hilang.


Sempat terpikir apakah ini penyakit medis atau non medis?


Pasalnya siang tadi sudah aku obatkan ke rumah sakit kantor dan sudah disuntik obat spasm otot. Tapi kenapa tak juga hilang rasa sakit ini? ya Tuhan, baru sekali ini aku merasakan sakit yang teramat menyiksa.


Sepanjang malam aku tak bisa tidur karena menahan rasa sakit. Kucoba mengurangi rasa sakit dengan mengucap istighfar. Siapa tahu ini memang teguran Allah atas dosa-dosa yang kulakukan dengan tangan kiriku.


Astagfirullah.


Aku juga mengingat bahwa sore tadi adalah sore paling menyebalkan. Bosku menyuruhku mengerjakan tugas yang bukan tugasku. Itu adalah tugas kantor sebelah. Lha kog terus aku yang disuruh kerja?


Giblik.


Aku juga di warning agar hapeku selalu on. Whatssapp harus selalu aktif. Kalau ada panggilan harus diangkat. Biar koordinasi selalu baik.


FUCK.


Who do you think you are!  Kamu memang bossku. Tapi aku juga punya dong hari libur. Aku juga mau dong hidup tanpa menyalakan hape. Aku juga mau dong  berhenti menatap layar hape terus menerus.


OK, aku bisa saja melakukan  seperti apa yang boss suruh. Tapi apa kompensasi yang aku dapat? Nggak ada. Sang Boss yang pelit nggak pantas mendapat layanan VIP seperti yang dia minta.



I REALLY HATE YOU, BOSS.




#SICK
#HATE