Translate

Sabtu, 23 Juni 2018

AZAB HARTA WARISAN



Seharusnya hari ini aku dan Tata akan pergi ke kota Madiun untuk menyelesaikan permasalahan jual beli tanah warisan. Tapi nggak jadi gara-gara hari ini adalah 7 hari meninggalnya suami mbak sri.

Berita kematian ini jelas sedikit mengejutkan mengingat belum sampai satu tahun, tapi keluarga mereka sudah berkali-kali kena musibah kematian.

Aku meyakini bahwa kematian memang sudah ditakdirkan oleh Allah SWT. Namun kematian yang berturut-turut dan seolah di luar nalar akal sehat, jelas menyisakan tanda tanya. Apakah ini akibat dari pembagian warisan yang tidak benar?

Bisa jadi.

Beberapa orang yang kutanya membenarkan. Keluarga yang serakah pada harta warisan, membaginya secara tidak benar akan kena karma buruk. Dan aku merasa keluarga bude Tin ini memang yang bersalah. Sehingga  kematian pada keluarga mereka datang secara bertubi-tubi.

Wallahu alam bissawab.

#hartawarisan
#azabhartawarisan
#curangwarisan

Kamis, 21 Juni 2018

HALAL BIHALAL KANTOR







Kamis, 21 Juni 2018

Pagi ini acara Halal Bihalal di kantor berjalan dengan lancar. Bertemu dengan teman-teman seluruh kantor.  Bersalam-salaman, saling maaf-memaafkan.

Hah, apa benar bisa langsung tulus memaafkan kesalahan yang mereka perbuat? Bisa saja bibirku tersenyum, namun hati yang sudah terluka nyatanya sangat sulit untuk disembuhkan.

Ya Allah, jauhkanlah hamba-MU ini dari rasa iri, benci, dengki dan dendam. Jadikanlah Hamba-Mu ini manusia yang baik hati, jujur, dan tidak sombong.

Amin ya Robul Alamin.

Tahu nggak, sebelum hari-H kemarin bapak buahku sempat heboh sendiri.  Beliau memang baru pertama menjadi panitia halal bihalal ini, jadi terkesan gupuh sak karepe dewe.

Sudah aku bantu merecord jumlah peserta yang bakal hadir. Malah minta tolong dibuatkan proposal acara hala bihalal ini. Aku iyakan saja, tapi aku tinggal tidur. Lha kalau nuruti beliau, semua  pekerjaan bakal aku yang nangani, dong!

Trus Panitia yang lain kerja apa coba?

Selasa, 19 Juni 2018

I LOVE YOU MOM



Semalam Mbak Sri, teman Tata datang berkunjung.  Dia ini memang teman baik Tata. Dalam beberapa kegiatan keluarga, dia selalu ada. Dia sudah kami anggap sebagai saudara.

Dia bercerita bahwa lebaran kali ini anaknya yang angkatan darat tidak bisa datang. Seperti ada nada sedih yang dia utarakan.  Dia bercerita bahwa meski sudah bekerja, anaknya ini masih juga minta uang ke ibunya untuk keperluan ini dan itu.

Padahal dia tahu, pekerjaan ibunya adalah penjahit. Berapa sih  pendapatan seorang penjahit? Sungguh aku heran dengan kelakuan anak-anak sekarang.

How come they did to his mother?

Bagaimanapun juga, ibu adalah orang yang harus kita muliakan. Itu jelas sudah tertulis di kitab suci agama manapun.  Sebanyak apapun harta yang kita berikan pada ibu, tak akan mampu menggantikan jasa-jasanya membesarkan kita.

Semoga sang anak segera menyadari kesalahannya ini.

Aku jadi teringat beberapa hari yang lalu, bu Ira (75 thn) tetanggaku juga bertandang ke rumahku. Dalam pembicaraan, beliau  menyinggung tentang masalah anak perempuannya.

Anak perempuannya itu, sebut saja Aya (48 tahun) kemarin diusirnya dari rumah. Wow ... how come? Hahaha ... sebenarnya kami sudah tahu masalah itu. Tapi kami tak mau ikut campur dengan masalah mereka.

“Aku usir Aya dari rumah”
“Lho kenapa, Tante?”
“Lha nggak ngerti blas. Malah ngerusoni tok di rumah!!!”

Waduh. Sungguh sangat jauh berbeda dengan apa yang aya ceritakan pada kami. Menurut Aya, ibunya inilah yang cerewet dan hanya berpikir tentang uang, uang dan uang.

“Coba lihat sendiri. bangunnya siang-siang. habis itu di depan komputer nggak mari-mari sampai siang. Habis makan, terus tidur lagi”

“Emang nggak bantu bersih-bersih rumah gitu?”

“Ngerasakno bersih-bersih. Benahin tempat tidurnya aja enggak! Cobak, wedok macem apa itu? Ngurusi anaknya aja enggak, apalagi ngurusi orang tua?”

“Waladalah”

“Pergi pagi kesana-sini  pulang malam-malam, nggak bawa uang. Lha dipikir bensin nggak bayar tah?  Beras nggak tuku? Air nggak bayar?”

Lalu Bu Ira bercerita panjang lebar tentang keburukan-keburukan Aya. Termasuk tentang kebodohannya menikah sampai 7 kali tapi nggak dapet apa-apa. Zong!

Sebagai seorang ‘sahabat’ aku hanya bisa mendengarkan  ceritanya, sambil mendoakan semoga Aya segera sadar dan menyadari kesalahan-kesalahannya.

Hanya itukan, yang bisa aku perbuat.

Buatku pribadi, ibu is number one. Tak ada seorangpun di dunia ini yang sanggup menggantikan posisinya. Bahkan seorang kakak perempuanpun tak pernah mampu berperan dan bersikap sebagai seorang ibu.

I LOVE YOU, MOM.


Senin, 18 Juni 2018

GAGAL HALAL BIHALAL


Siang jam 10, Maria memberi kabar bahwa acara halal bihalal leting SMA yang rencananya akan diadakan di Sutos batal. Alasannya Medy yang jadi koordinator malah gak bisa hadir karena sedang puasa. 

Temen-2 cowok yang lain juga sedikit yang mau ikut. Bisa jadi karena mereka lebih berat nonton acara Piala Dunia Sepak Bola yang sedang berlangsung minggu-minggu ini

Ya, sudahlah.

Akhirnya aku standby saja di rumah. Bongkar-bongkar dan menata ulang koleksi majalahku yang sepertinya sudah penuh debu. Mengasyikkan sekali bisa membaca majala-majalah lama. Seolah mengmbuka kembali lembaran-lembaran kisah masa lalu.

Sorenya aku mengajak tata makan di Perak. Tadinya mau ke Bebek Yudi di jalan Teluk Surabaya, tapi ternyata masih tutup. Alhasil kami memutuskan makan ayam sambal di jalan Jakarta.


GAGAL BELANJA


Senin, 18 Juni 2018

Sore ini pergi ke SDP sendirian. Aku berencana membeli baju berwarna biru untuk acara Halal Bihalal Leting SMA-ku besok.  Habis beli baju, mungkin mau nonton film saja.

Dan ternyata di dalam mall masih penuh sesak.

Setelah berkeliling di booth sepatu dan baju, berakhir dengan tidak membeli apa-apa. Sebenarnya tadi naksir sama sepatu bagus produk Buchery yang harga biasa 800 ribu tapi sekarang lagi didiskon 350 ribu. Setelah timbang sana-sini, malah batal beli.

Soal baju juga begitu. Aku naksir dengan baju jeans berwarna biru yang sepertinya eye catching banget, bahannya juga lembut. Tapi harganya lumayan mahal.  Dua ratus ribu rupiah.  Dan aku merasa sayang saja membeli baju dengan harga segitu.

Kepalaku mulai pusing. Bisa jadi karena perutku sudah keroncongan belum terisi sejak siang tadi.  Ini kadang yang bikin maagku sering bermasalah. Jadwal makan yang nggak bener.

Nyatanya makanan yang kusuka di foodcourt sudah habis.

Ya Tuhan, kesialan apalagi ini!   

Kuputuskan untuk beli nasi goreng saja di foodcourt murah yang ada di lantai bawah. Dan ternyata, lokasi ini sedang tutup. Bisa jadi para karyawan sedang pada pulang kampung.

OK ... aku putuskan untuk pulang saja. 



Keinginanku untuk nonton film kandas sudah.  Tadinya penasaran mau nonton film Dimsum Martabak yang dibintangi  Ayu Ting-2 & Boy William.  Pengen tahu saja gimana sih akting pertama Ayu Ting-2.


Secara dia kan terkenal sebagai penyanyi dangdut saja. Selebihnya  dia terkenal dalam gimmick (baca: kisruh) rumah tangga Rafi Ahmad dan Nagita Slavina.  Selebihnya?  Entahlah.  Mungkin nunggu saja film ini beredar di tv nasional.